Menjemput Rezeki
Menjemput Rezeki
Oleh: Bu Kanjeng
Baju baru alhamdulillah, tak ada baju yang baru alhamdulillah. Lebaran segera tiba. Ada yang merayakan hari Jumat ada pula yang hari Sabtu. Kamis malam pun Bu Kanjeng sibuk menjawab pertanyaan 4 anak lelakinya yang sudah berkeluarga dan punya negara sendiri. Ketika Lebaran tiba tidak punya niat sedikit pun di hati Bu Kanjeng untuk membuat setingan atau mengharuskan dan mewajibkan mereka datang di hari lebaran pertama.
9 hari terakhir Ramadan bu Kanjeng lebih fokus di masjid sekitar 6-7 jam Bu Kanjeng dan Pak Kanjeng punya komitmen itu. Tidak heran bila pekerjaan lain terabaikan. Rumah seperti kadang buku dan dus. Sedangkan kamar anak bungsunya alih fungsi sebagai tempat transit keluar masuknya sembako dkk, sebagai rangkaian dari heboh lebaran.
Stok sembako walaupun tidak banyak membuat hati Bu Kanjeng riang. Dengan dibantu relawan yang siap sedia tenaga, membantu giat Bu Kanjeng, semua baik-baik saja. Bu Kanjeng sudah siap dengan menu takjil andalan baik untuk berbuka petugas azan dan jamaah salat magrib lainnya mau pun untuk kelompok tadarus.
Salah satu tim relawan Bu Kanjeng ya Mba Narsi. Dia termasuk orang kesayangan Bu Kanjeng. Loh kok bisa? Janda beranak 3 ini memang spesial di mata Bu Kanjeng. Pasalnya Mba Narsi itu berhati mulia dan tabah menghadapi fitnah keluarga. Dia menghadapi perceraian dengan lapang dada walaupun semua itu menyakitkan. Solusi yang diambil, dia rela kehilangan warisan, kehilangan suami, tetapi ia tidak kehilangan iman.
Urusan perceraian selesai. Mba Narsi lebih suka menenangkan hatinya di sebuah pondok pesantren di Tegal. Anaknya yang bungsu ikut bersamanya. Sementara dua anak perempuannya berbekal ijasah SMK, mengadu nasib di Cikarang.
"Hidup saya sudah nyaman di Tegal. Mengurusi anak pondok dan saya bisa belajar lebih banyak arti kehidupan yang sesungguhnya." jelas Mba Narsi tegas.
"Sayangnya anak saya tidak mau sekolah di pondok. Akhirnya saya kembali ke Solo. Tidak mungkin hak asuh anak saya serahkan ke mantan suami. Saya bukan perempuan yang punya pekerjaan tetap. Saya yakin Allah maha kaya. Saya bisanya hanya membantu orang yang minta tolong. Pekerjaan serabutan apa pun bisa saya lakukan,"
lanjut Mba Narsi
Itu sebabnya Bu Kanjeng yang kadang punya banyak ide tetapi tidak bisa dilakoni, akhirnya berbagi tugas dengan Mba Narsi. Ia tidak sungkan untuk minta tolong dengan pemikiran, Bu Kanjeng membutuhkan tenaganya untuk membantu agar kegiatan Bu Kanjeng bisa berjalan lancar. Bu Kanjeng pun seakan mendapat suntikan semangat untuk bisa berbagi dalam banyak hal. Bulan Ramadan memang bulan mulia, banyak hal yang bisa dikerjakan secara bersinergi dan berkolaborasi.
"Besok saya sudah dapat pekerjaan Bu, semoga saya bisa dipercaya dan amanah. Kerjanyw hanya malam Bu, mulai bada isya sampai pagi hari." Saat malam takbiran sambil mengawasi santri TPA, Mba Narsi menyampaikan kabar gembira itu.
"Oh yang kemaren 4 hari mba Narsi ditraining saat bayinya pulang dari rumah sakit ya?" sambung Bu Kanjeng.
"Status bayi dan ibunya sebenarnya bagaimana ya? Gosip yang merebak simpang siur," Bu Kanjeng semakin kepo.
"Ibunya si bayi kembar itu kerja di tempat hiburan malam. Ia hanya cuti 2 minggu. Sebenarnya bayi itu sangat tidak diharapkan kehadirannya. Sang Bapak konon orang kaya sudah meminta supaya janin itu digugurkan. Tentu saja sang ibu tidak mau dan mempertahankan dua bayi itu tetap hidup." jawab Mba Narsi
"Jadi nanti Mba Narsi ngurus dus bayi itu bila ibunya kerja di malam hari? cecar Bu Kanjeng.
"Saya ngurus 1 bayi. Yang satunya Linda yang ngurus. Ngga sanggup Bu kalau harus ngurus dua bayi sekaligus," timpal Mba Narsi.
Ujung-ujungnya Bu Kanjeng berpikir bagaimana dengan imbalannya. Ini hal sensitaf
Sepertinya Bu Kanjeng perlu infonya agar dia bisa riset kecil- kecilan tentang kehidupan para tetangganya dengan paket kehidupan yang mereka terima dari Allah.
"Saya menjaga bayi itu tidak full. Hanya 12 jam. Imbalannya 50 ribu rupiah. Bayi baru lahir lebih banyak tidurnya. Insyaallah aman dan saya bisa menjaganya. Mendapat uang 50 ribu itu sangat saya syukuri. Setidaknya bisa untuk makan dan uang saku anak saya." katanya.
Bu Kanjeng merenung. Berapa pendapatan Mba Narsi sebulan? Berapa pendapatan ibu si bayi kembar semalam? Dan pensiun Bu Kanjeng sebulan? Betapa bervariasi nya cara Allah membagi rezeki kepada umat-Nya.
Dengan rezeki yang Allah berikan bagaimana keimanan dan ketakwaan umat-Nya. Sepertinya Bu Kanjeng belum lulus dia masih merasa khawatir dengan melihat berbagai fenomena kehidupan setiap hamba Allah.
Surakarta Hadiningrat, 23 04 2023